Sabtu, 11 Oktober 2008

Mengapa Dimensi Kultural Psikologis dalam Pendidikan

Muhammad Yaumi


Why, mengapa, dimensi kultural psikologis dalam pendidikan. Pernyataan ini merupakan entry point mengawali suatu perkuliahan dalam mata kuliah “Dimensi Kultural Psikologis dalam Pendidikan bersama Ibu Prof. Conny Semiawan dan Ibu Dr. Yufiarti. Ketika pernyataan ini diformulasi ke dalam bentuk pertanyaan “mengapa perlu adanya dimensi kultural psikologis dalam pendidikan? Berbagai pandangan dari kawan-kawan pun muncul untuk meresponi pertanyaan tersebut. Sebagian kawan mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari aspek kultural psikologis.


Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang untuk menopang tumbuh kembangnya aspek ini di dalam praktek-praktek pendidikan. Teman yang lain memberikan pernyataan yang nampaknya bersumber dari hasil cara berpikir yang sama yang melihat betapa manusia membutuhkan interaksi sosial dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Dengan demikian, manusia yang satu membutuhkan pembinaan, arahan dan didikan dari manusia lainnya. Kedua jawaban tersebut pada hakekatnya tidak keliru, tetapi belum berpijak pada potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir. Potensi dasar yang dimaksud adalah hadirnya manusia (bayi) dengan membawa masing-masing keunikan individual yang multi kompleks yang merupakan keutuhan jamak dengan penuh keterarahan. Keutuhan jamak tetapi memperhatikan keterarahan individualitas yang unik. Dikatakan unik karena tidak satu pun manusia yang lahir di dunia memiliki kesamaan bentuk rupa dan tingkat kecerdasan sekalipun dilahirkan dalam bentuk anak kembar.



Hakekat Keunikan Individu Manusia

Manusia lahir dari 1 – 200 miliar sel otak, neuron-neuron, tapi yang kita pakai Cuma 5%. Padahal 1-200 miliar sel otak, sejumlah plamir di luar angkasa mampu memproses beberapa triliunan informasi. Tapi Kebenayakan neuron-neuron itu tidak bekerja, Tidur, pinsang, atau belum berfungsi. Kalau yang dihasilkan luar biasa, maka the hiden excellence paling unggul. Jadi, manusia di seluruh dunia belum menggunakan seluruh potensinya, belum menggunakan inteligensinya yang diekspresikan melalui kehidupan intelectualnya. Apa lagi manusia Indonesia yang dipakai Cuma berapa person. Ada anekdot atau lelucon bahwa pernah suatu ketika di mal Amerika ada penjualan otak dan otak orang Indonesia paling laris karena belum pernah dipakai. Oleh sebab itu, kita hendaknya menggunakan semaksimal mungkin sel otak kita melalui model pendidikan. Jadi, setiap anak dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. Sedangkan yang dimaksud dengan bakat adalah kemampuan inheren dalam diri seseorang yang dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak terbentuk sejak lahir tetapi bagaimana fungsinya sangat ditentukan oleh cara anak berinteraksi dengan lingkungannya (aktualitas).



Di samping itu, tingkat kecerdasan, Inteligence Quotient (IQ) anak juga berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tingkat IQ yang dimiliki oleh anak tersebut. Mengukur IQ sebaiknya dilakukan pada waktu anak kelas 5 –6 Sekolah Dasar. Setiap anak normal mentalnya memiliki kemungkinan genius dalam dirinya, yang bisa digali, bisa ditemukan yang paling baik (yang unggul tetapi belum nampak pada diri anak (hidden exellence in personhood). Namun demikian, bagi anak yang memiliki tingkat IQ di bawah normal (below average) akan sangat sulit mencapai tingkat superior dan genius walaupun peranan lingkungan begitu besar. Perbedaan potensi, bakat, dan inteligensi yang terdapat pada setiap orang itulah yang disebut dengan keunikan individualitas. Keunikan individualitas melahirkan jenis-jenis dan keragaman yang membentuk satu kesatuan masyarakat yang plural.




Interaksi Nature dan Nurture

Pluralitas masyarakat tentu saja diikat oleh suatu budaya yang memiliki pandangan hidup, way of life dalam rangka menegakkan nilai-nilai moralitas, dan tata krama yang disepakati bersama dalam kehidupan masyarakat. Namun, tata nilai dan moralitas yang dianut dalam suatu masyarakat atau negara mengalami goncangan dan gesekan yang hebat memasuki era globalisasi. Goncangan itu terjadi akibat perpaduan nilai-nilai baru yang dibawa oleh arus globalisasi dengan tata nilai lama yang dianut masyarakat. Oleh karena itu, setiap negara melakukan restrukturisasi untuk menghindari terjadinya persinggungan negatif dari segala kehidupan. Di Indonesia, restrukturisasi telah membawa dampak begitu besar di dalam berbagai sektor kehidupan. Salah satu sektor yang telah direstrukturisasi adalah sektor pendidikan yang berwujud reformasi pendidikan sebagai dampak dari perubahan sistem pengelolaan negara yang sentralistik menjadi otonomi daerah dalam rangka mempercepat proses inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun perubahan yang dimaksud dapat digambar sebagai berikut:
Perubahan dalam melakukan melakukan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari dua pendekatan yang perlu dipertimbangan dalam psikologi. Pendekatan tersebut seperti yang dikatakan oleh W. Dithey dan Spranger yang terdiri atas psikologi yang bersifat bathiniah dan behaviorisme. Keduanya mempunyai dasar pijakan yang berbeda dalam melakukan pengukuran; yang pertama menggunakan pendekatan nilai yang mencakup keseluruhan verstehen, sistem dalam diri manusia. Kedua, menggunakan pendekatan eksperimen yang melibatkan alam sebagai unsur yang kausal.